Senin, 17 Oktober 2011

DOKTER NGAMEN

banyak cara untuk ngamen
sekedar bersuara standar, tanpa nada, wajah sendu, tadah topi, dapat uang.
 
Boleh mencoba sedikit usaha beli gitar atau pinjam teman. Suara lumayan. Lagu yang lumayan, dapat uang juga lumayan
 
Ada juga yang punya suara merdu, tanpa alat. Semakin merdu, semakin disukai pendengar. Dapat duit juga lumayan
 
Ingin lebih profesional, cari teman. Banyak orang, banyak modal, slaing bantu. Gitar, harmonika, pianika, kricikan sampai drum dipakai. Pendengar senang. Dapat duit banyak, bagi rata. Tetap lumayan
Mau simpel pun bisa. Punya kompetensi, suara oke, tampilan oke. Ngelamar gabung di kelompok band yang udah mapan. Syarat terpenuhi. Nyanyi. Pendengar senang. Dapat uang lebih dari lumayan.
 
Ngamen,
istilah dokter ketika praktek
praktek sendiri, modal sendiri, uang masuk kantong sendiri. Tergantung pasien seneng atau nggak.
Senang, banyak yang datang, dapat uang.
Tidak senang, sedikit yangdatang, sedikit uang
Praktek bareng teman-teman sejawat. Modal lebih, sarana lebih, pelayanan lebih. Tapi uang bagi rata. Tetap lumayan
 
Praktek di RS atau perusahaan swasta juga bisa. Asal memenuhi syarat permintaan. Penuhi, diterima, periksa, dapat uang, lebih dari lumayan.
 
Jadi dokter benar-benar ”nyeni”
Prakteknya aja pake istilah ngamen
Semua kembali pada keinginan pengamen.
Mau dapat uang? Jelas
Mau menghibur pendengar? Itu beda-beda
 
Dokter juga begitu
Keinginan utama mau apa? Dapet uang? Atau memberikan pelayanan?
Pasien memberi balasan jasa berupa uang bisa karena senang dan puas
Bisa juga karena terpaksa, yang berujung kecewa
 
Jadi dokter,
Ngamen yuuk,
Bukan hanya dengan gitar atau krincingan,
Tapi dengan hati...
 
Lalala..lilili... kricik-kricik...

MASA LALU ADALAH ANTIBODIMU

Tak ada manusia yang tak memiliki masa lalu.
Masa lalu adalah hal yang pasti kita miliki, begitu juga dengan saat ini, dan esok hari.
Ketiga hal yang sama, namun dipisahkan oleh dimensi yang berbeda.
 The image “http://www.freewebs.com/arraisy/waktu.jpg” 
cannot be displayed, because it contains errors.
Waktu....
Itulah dimensi yang tak kan pernah dapat manusia hindari. Waktu terus bergulir, menjadikan saat ini akan menjadi masa lalu, hari esok akan menjadi saat ini, dan bahkan esok pun akan menjadi masa lalu!
Dan, ketika hal itu terus bergulir di hidup kita. Apa yang akan kita lakukan dengan putaran hidup ini? Membiarkan saja masa-masa itu lewat begitu saja? tanpa jejak, tanpa bekas..hilang dan pergi
Harusnya kita belajar dari tubuh.
Tubuh mau tak mau selalu dihadapi oleh milyaran "ancaman". Kuman, virus, dan apapun itu yang dapat menyebabkan tubuh menjadi sakit, hal ini terjadi setiap hari, setiap menit, setiap detik.
Namun kekebalan lah yang menjadikan tubuh ini tetap dapat menjalani hidup dengan sehat, tanpa sakit. Walaupun ketika "ancaman" tersebut berhasil memasuki tubuh, imunitas punya cara. Yang pada akhirnya dapat menimbulkan suatu "sistem memori" yang spesifik terhadap "ancaman" tertentu. Seseorang yang pernah terpapar oleh suatu kuman misalnya, maka ia akan mempunyai kekebalan terhadap kuman tersebut.
 
Begitupun hidup, masa-masa yang pernah kita lalui harusnya dapat menjadikan suatu kekebalan tersendiri. Bukan hanya lewat begitu saja. semua hal yang pernah menjadi "masa lalu" itu harusnya membuat diri ini menjadi lebih kebal, lebih kuat. Dan itu hanya akan kita peroleh jika kita dapat menjadikannya sebagai suatu pembelajaran hidup.
Bukan hanya lewat begitu saja
Datang dan pergi
Hilang tanpa bekas...
Maka seharusnyalah "masa lalu" itu menjadi antibodi pada diri ini, pada jiwa ini untuk kemudian dapat lebih kokoh, lebih tegar dan bijaksana dalam menjalani hidup.
"pengalaman adalah guru terbaik"
Begitu kata orang bijak.
Namun siapakah "murid terbaik"?
Apakah kita dapat menjadi murid terbaik dengan belajar dari sang guru terbaik itu?
Jangan-jangan kita hanya menjadi murid yang tak pernah belajar dari sang guru terbaik.
Sangat merugi...
Jangan pernah menyesali masa lalu
Ia adalah kekebalanmu,
Gurumu
Dalam menjalani hidup
Yang lebih baik
Di hari ini,
Esok hari,
bahkan sampai jiwa lepas dari raga..

Mimpi Jadi Dokter

CINTA CITA-CITA KU
Kalau ditanya apa cita-citamu?
Jawabnya mungkin: ingin jadi dokter biar bisa nyuntik orang..njus…njus… Itu sih katanya susan, adik -lain bapak lain ibu- nya kak Ria Enes.
Nah kalau kamu? Apa cita-citamu? Dan mengapa hatimu ingin menggapainya? Apa hanya agar bisa njus-njus orang seperti susan? Atau yang lain????
Teman,
Cita adalah harapan...
Keinginan di masa depan dan gambaran akan bentuk sosok yang diimpikan. Apa yang telah kamu cita-citakan dalam hidupmu?
Didalam CITA terdapat CINTA. Cinta akan CITAmu, Cinta yang melahirkan kekuatan dahsyat untuk melakukan hal apapun demi menggapai CITA.
Cintalah yang membuat diri ini kuat, Sekuat karang. Namun sekaligus membuat hatimu lembut, Selembut awan.
Lembutkan kekuatan itu dengan hati nuranimu yang bening
Teguhkan kekuatan itu agar tetap kokoh
Kekuatan yang dapat memancarkan cahaya seterang bintang!
Tunjuk citamu diantara bintang-bintang itu,
Bintang impianmu!

Ya..hubungan antara cinta dan cita sangatlah erat. Seperti awan dan hujan, seperti titik embun di langit dan pelangi. Cintalah yang memberi kekuatan untuk menggapai cita. Namun CINTA apakah yang mendasari CITA di hati kita?
Cinta pada dunia?
Harta?
Tahta?
Atau wanita?
Weekss,, serem banget seeeh...... tapi jangan salah lho, banyak yang berjuang setengah hidup, jungkir balik mencapai cita-citanya untuk tujuan DUNIAWI diatas, PERCAYA deh.... tidak terkecuali untuk profesi-profesi yang dianggap mulia sekalipun!!!
Terus....bagaimana dong dengan cita-cita yang udah dipatri sedemikian rupa, baik cita-cita pribadi maupun cita-cita harapan orang tua dan calon mertua??? ^_^
            Jawabannya GAMPANG (tapi pelaksanaannya susah....) yaitu landasilah semua cita-cita mu dengan cinta padaNya semata!!!!
             Jangan anggap remeh masalah cita-cita. Ini bukan masalah anak kecil yang kudu punya jawaban kalau ditanyain apa cita-citanya.

GUE ANAK FK (SO WHAT GITU LHO..?)

"Pssst…liat sini donk…gue dah jadi mahasiswa di fakultas kedokteran di  sebuah universitas terkenal di Indonesia. Keren dong gue, kalo pas pulang kampung orang-orang pada bisik-bisik tetangga.. dikomentarin macem-macem :wuih, hebat calon dokter tuh…"
Bisik hati seorang mahasiswa sambil ngaca di spion mobil (mobilnya orang)
Padahal  mah…..
Kalo ditanyain apa itu "masuk angin" mungkin langsung nyengir manis…
Kalo ditanyai patofisiologi "kerokan" tambah meringis…
Ditanyain obat flu yang aman buat ibu hamil, malah buka MIMS. (buku daftar obat)
Cape de…
Ini jadi bahan intropeksi buat kita semua agar tidak sombong dengan segala macam prestise yang sudah melekat di pundak. Jadi ini atau jadi itu, hanya masalah TAKDIR yang emang jalannya begitu, tidak berhak untuk sombong sama sekali.
Santai saja lah, biasa aja kali jadi mahasiswa kedokteran. Mungkin tetangga-tetangga aja yang tidak tahu kalau posisi kita berada di strata intelektual paling rendah di kampus. Hehe....
BELAJAR DI FK
Menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran mungkin bagi sebagian orang adalah suatu prestise tersendiri. Kata orang-orang sih, seorang dokter itu “tipe menantu yang dicari-cari”, padahal nggak juga, kalo dicari-cari polisi karena kasus malpraktek sih siapa yang mau ngejadiin mantu??
Memang masyarakat sendiri menganggap profesi ini mempunyai nilai lebih. Entah lah apa nilai lebih itu, mungkin karena bisa menyembuhkan penyakit?.  Dokter hanya lah sebuah profesi, bernilai lebih atau tidak tergantung dari manusia yang menjalankannya. Apakah dengan menjadi dokter ia dapat menjadi “sebaik-baiknya manusia?” atau malah merugikan manusia lain?
Profesi ataupun pekerjaan apapun itu akan bernilai jika dapat memberikan nilai lebih bagi orang lain, yaitu: kemanfaatan. Bahkan seorang tukang becak pun akan lebih bernilai (di mata Tuhan tentunya) daripada seorang dokter, pengacara, bahkan presiden yang dalam menjalankan tugasnya banyak merugikan masyarakat.
Masa kuliah di pendidikan akademik maupun profesi bukan hanya sebagai ‘belajar biasa’ namun banyak sekali ‘pembelajaran hidup’ yang dapat dipetik. Kita bukan hanya belajar bagaimana menjadi dokter yang bisa membantu pasien mengatasi penyakitnya. Namun bagaimana menjadi sosok seorang dokter, sebuah profesi yang akan terjun ke masyarakat. Seorang manusia yang akan mengabdikan dirinya sesuai sumpah dokter yang telah ia ikrarkan, seorang manusia sebagai hamba Allah yang akan menggunakan profesi ini sebagai ‘jalan pengabdian’ kepada-Nya.
Berat yah??? Emberrr...

PASIEN ANAK DAN ANAKNYA PASIEN

kalo pasiennya anak kecil...
ato kalo pasien kebetulan bawa anaknya
pasti deh ditowel-towel ama gue..hehe

“ayo sini sayang ditimbang dulu ya....”
Pertama, sapa dengan panggilan sayang biar mereka ga takut....karena biasanya anak kecil dah nangis duluan ngeliat jas putih.... *hayoh yg pas kecilnya takut ama dokter ngacuuuuung!!!! *


“ayo salim..namanya siapa?”
 “sasa....” jawab si adek sambil ngelap ingus pake tangan gue (heleh..)

“sakitnya apa?”
biasanya akan dijawab dgn gaya malu2 sambil milin ujung baju (asal ga sambil ngelap ingus lagi ya dek.... :p ).
Malah ada yang jawab dengan gaya yang nggemesin... “sakit batuk, panas.... hmmmm (sambil pasang gaya mikir) kadang2  yo pilek, hmmm itu aja deh” (lho kok pake deh?) yang pasti dijawab dgn logat jowo banged.

“mau diperiksa boleh?” gue nanya lagi..
Sama seperti pasien dewasa tetep matur mau diperiksa, biar ga kaget kalo tiba2 di ketok2 perutnya ato ditempelin stetoskop yang dingin

“ayo..tarik nafas” diajarin cara tarik nafas dengan niruin ngirup napas dalem2. Kadang2 gue kaget karena si adek serius bgt niruinnya, sampe tarik napas dalem bgt dengan idung kembang kempis...hehe lucu banget!!!!! Malah ada juga yang disuruh tarik napas eh malah buka mulut....wekeke. juga ada yang pas ditempelin stetos malah kegelian.... duh jadi pengen dicubit.....gemezzzz.

Ada juga anak yang habis diperiksa malah minta diperiksa lagi.... bajunya dibuka lagi en ngomong ”agi...agi..” (terjemah:lagi..lagi)  wuih, rasanya enak yah???? :p

Ada juga pasien anak yang dirawat inap, setelah diperiksa malah minta gendong en narik2 stetoskop gue.... hehe mau jadi dokter kali yak? Ato gw nya aja yang maksa nggendong? Hihi
Juga ada ponakannya pasien yang berhasil gue culik ke ruang jaga :p ampe si ibu kudu ngejemput..duh maap ya buk....

Lumayan bisa ngilangin kejenuhan......
En jadi kangen ama ponakan teman kemarin genap jumlahnya 11 orang (ini mah ganjil bukan genap....). udah bisa bikin kesebelasan.....


Jadi pengen pulang.......
whuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

DOKTER kug Malpraktek.

Dulu.... kukira jadi dokter itu hebat
Bisa hidup bahagia, dihormati orang, dan
tentunya.. : banyak duit!!!
Dulu.... kupikir dokter itu orang yang mulia
Bantu orang banyak tanpa pamrih....
Tapi ternyata AKU SALAH!!!
Ternyata lebih enak jadi dukun yang celup-celup
batu di air. Walaupun sampai ada orang yang
tewas dan tak pernah sembuh, tapi tak pernah
dituntut.
Sekarang mau jadi dokter susah, sedang menempuh
pendidikan dokter susah, sudah jadi
dokter eh malah tambah susah....
Mulai dari sertifikasi kompetensi, syarat ini-itu
untuk praktek, sampai tuntutan malpraktik yang
selalu menghantui.
Ffuh, kenapa makin banyak kasus
yang mencoreng pengabdian seorang dokter.
Apa yang salah? Dokternya kah? Rumah sakit
kah? Atau tuntutan pasien yang terlalu tinggi

TERDIAM ku Disini

saat aku duduk terdiam
aku mengingatmu,
membuatku juga semakin sedih,
membuatku mulai berdo'a lagi
.
menunggu kabarmu,
menjadikan emosiku tak terkendali
bertanya-tanya,
seakan kita sudah bersama selamanya
.
namun apa daya.
aku masih duduk terdiam,
menunggu kabar baik darimu,
lebih baik dari yang terakhir.
.
harapku..
kita bersama berdo'a,
menjadikan keadaannya lebih baik
dan menjalani aktivitasnya seperti dahulu