Kamis, 22 Desember 2011

Hidup di jalur kedokteran…..

Terkadang aku mikir gini.. andaikata aku masuk fakultas lain (hukum/ekonomi) pasti aku akan lebih menikmati hidup. Aku akan punya banyak waktu untuk jalan2 dengan teman2, punya teman 2 yg oke dan gaul, punya banyak waktu pula untuk merawat tubuh.
Disini, di kedokteran (entah apakah aku yg membesar2kan, tapi emang itu yg aku rasa) dunia serasa berputar terlalu cepat. Pertama, dari semenjak kuliah. Udah terasa banget perbedaannya. Selalu kuliah dari jam 8 pagi, hingga jam stgh 5 sore, setiap hari, senin-jumat. Udah gitu, bagus kalau pulang bisa langsung jalan2 atau istirahat, biasa kami pulang dari kuliah dengan membawa banyak tugas. Dan yg namanya kuliah itu, asli bikin pegel. Sebenarnya tergantung yg membawakan kuliah siapa, kalau cara kuliahnya asyik, yaa gk terlalu terasa pegelnya. Tapi kalo udah bahan kuliahnya udah padat, berat, trus tegang cara bawainnya,,waduh kaya mau patah tulang belakangku.
Belum lagi banyak banget yg bersifat non kuliah, seperti Laboratorium, PBL, CSL, yang semuanya itu gak ada klo kita kuliah di hukum/ekonomi. Seolah2 membuat paper/makalah itu makanan sehari2 lah. Kalau seandainya semua laporan, paper, dan makalah selama kuliah di kumpul, mungkin tingginya udah 2 meter kali.
Dan yang paling aku benci, kalau mau ujian. Saking banyak banget bahannya, gak tau mau mulai dari mana. Aku gak tau deh, selama aku kuliah kok rasanya gak ada yang nyangkut di kepala ya. Semuanya kayak bersifat semu. Seolah2 bener2 hanya menghapal aja, gak benar2 dipahami. Belum lagi PBL, dimana kita harus presentasi di depan teman2 yg lain, CSL yang kita harus merasakan ketegangan saat ujian karena sewaktu2 semua yang sudah kita hapal mati dapat langsung blank seketika kalau kita tegang karena bertemu penguji yang killer. Ujian praktikum yang kita harus memikirkan jawaban sebelum bel berbunyi. Kadang saking tegangnya menanti bunyi bel, aku bahkan tidak bisa menemukan jawabannya dalam kepalaku. Seolah2 itu semacam bel kematian ato apa, yang sekali berbunyi, langsung ilmu di kepala lenyap seketika.
Setelah semua hal2 tidak menyenangkan tadi, aku merasa bahwa kehidupan kuliahku sangat tidak gampang. Dan ketika tiba saatnya wisuda yg periode pertama, dan tenyata mata kuliahku masih ada 2 yang belum, sudah serasa seperti kiamat. Gak tau sudah berapa liter air mata yang terbuang. Dan ketika aku harus menunggu lagi 3 bulan untuk menyelesaikan semua maa kuliah tertunda, walaupun diluar tampak biasa, tapi sebenarnya sekali ada orang yang menyinggung, seketika langsung berubah moodku.
Setelah aku meninggalkan bangku kuliah, dan melanjutkan pendidikan selanjutnya, yakni koas…. ternyata masa2 susahku di kuliah, tidak ada apa2nya dibanding dsini, di koas.
Rasanya sangat bangga, akhirnya bisa mengenakan jas dokter, walaupun yang tersulam disitu “dokter muda”, tapi sekilas orang tidak akan bisa bedakan dengan yang dokter beneran.
Awal2 masuk koas, masih terasa suasana senang n bangganya, karena akhirnya aku bisa selesai juga kuliah dan lanjut koas. Dan untung bagian pertama yang aku masukin masih bagian yang mudah. Semuanya baru terasa sulit ketika harus memasuki bagian yang lama dan yang sangat melelahkan. Di koas lah, yang bener2 kita rasakan, bisa tidur dimanapun. Entah di bangku, di mobil, pokoknya kapan ada waktu kosong bisa kita manfaatkan dengan tidur2 ayam. Apalagi aku orangnya yang sangat mudah berkeringat, dan bangsal di rumah sakit itu panasnya minta ampun. Alhasil bajuku tiap hari pasti basah. Belum lagi suasana bangsal yang sangat penuh orang, jadi baunya pun macam2.
Dan sekedar info, terkadang aku merasa bahwa, status sebagai koas itu status yg paling rendah di rumah sakit. Sampai2 perawat2 pun bisa menyuruh2 kami. KoAss.. Ko Assisten… kita bener2 berperan sebagai assisten. Menemani dokter residen (yang sementara mengambil pendidikan untuk spesialis) kemana2, menyediakan yang dia butuhkan, siap untuk dsuruh2 mengambil ini itu, membawakan status2 pasien ketika akan visite (mengunjungi/memeriksa pasien yang rawat inap, setiap pagi hari). Yahh.. itulah koas. Kegiatan sehari2 tidak lepas dari menunggu disuruh oleh residen. Kadang aku mikir, kita membayar uang SPP untuk disuruh2. Mungkin inti sebenarnya dari koas bukan itu, aku tahu itu, kita dsuruh belajar dari mengamati, belajar dari yang kegiatan yang kita amati sehari2 di rumah sakit, hanya saja susah mau mikir seperti itu, saat kita merasa kewalahan banget dengan tugas2 yg disuruh oleh residen.
Aku ingat sekali, saking capeknya dsuruh, aku sampai terduduk nangis sendiri di tangga rumah sakit. Aku stress, karena dari pagi aku datang, tidak pernah sekalipun ada istirahat biar untuk duduk sebentar, karena selalu disuruh bolak-balik mengambil ini-itu oleh residen. Dan keadaan itu berlangsung selama seminggu, siapa yang gak stress?? (kejadian ini waktu aku menjadi PJ Lab Hematology di Bagian Anak).
Kalau dengan tugas2 mengetik, aku tidak merasakan hambatan, karena memang kita terbiasa sejak jaman kuliah. Selain capek menjadi pesuruhnya para residen, yang paling capek lagi yang namanya jaga, terutama jaga malam. Jaga itu, kita standby setelah jam dinas. Jadi ada semcam jadwal gitu, dibagi2 jatah stadbynya. Jaga siang gak terlalu berat karena kita selalu punya waktu untuk tidur di rumah ( jaga siang= dari jam 2 siang – jam 9 malam), yahh..tentu aja gak enak kalo ternyata sudah capek2 dari rumah sakit, masih ada tugas mau dikerjakan lagi di rumah, alamat begadang deh. Tapi kalo jaga malam mulai dari jam 9 malam – jam 7 pagi), kita harus siap2 selalu dibangunkan bila ada kiriman pasien baru dari UGD ke bangsal. Kami lah yang harus menerimanya pertama kali, sebelum melapor ke residen. Biasanya selalu ada pembagian jatah terima pasien baru, supaya adil tiap orang. Belum lagi di tambah jadwal follow up, yaitu kita harus melakukan pengukuran TNPS (Tekanan darah, Nadi, Pernapasan, Suhu) pasien setiap jam2 tertentu. Jadi kalau jadwal follow up kita jam 2 malam, ya kita harus bangun dan follow up.
Dan yang paling mengenaskan, tidak semua kamar koas itu layak ditempati. Ada kamar koas yang alhamdulillah berAC dan tempat tidurnya lumayan banyak, jadi bisa tidur berdua satu tempat tidur, well… setidak tidak tidur di lantai. Tetapi ada pula kamar koas yang sangat tidak layak. Sekali jaga, bisa sampai 10 orang lebih, sedangkan tempat tidur cuma 2, dan kasur di lantai cuma 1, alhasil harus berdempet2an. Belum lagi kalo yang pengap banget dan tidak ada AC, huhhh sangat panas skali, tidur pun tak nyenyak. Akibatnya pagi bangun dengan kondisi badan tidak fit karena kurang tidur, dan badan pegel2 karena posisi tidur yang aneh. Makanya, terkadang kalau sudah selesai jatah terima pasien baru atau sudah selesai jam follow up ku, aku pulang ke rumah untuk tidur. Di koas lah, aku mulai terbiasa bawa mobil tengah malam buta sendirian. Dan mudah2an sampai sekarang tidak ada bahaya mengancam di jalan.
 Di koas, setiap bagian kita bertemu dengan orang baru. Jadi mau tak mau kita harus terbiasa berteman dengan orang baru di setiap bagian. Mau jalan2 hangout pun susah, karena teman2 kita punya kesibukan masing (apalagi kalau kita beda bagian), mau jalan dengan teman baru pun agak risih.
Tapi yang menarik dari koas, ada banyak cerita. Aku juga selalu berpendapat, semua hal susah yang aku lewatin, nantinya akan jadi cerita, jad jalani saja. Malah terkadang semakin susah, berat, dan menjengkelkannya semakin menarik pula cerita itu untuk diceritakan nanti. Seperti ada residen atau perawat rese yang kerjanya ngomel2 mulu, nyuruh2 mulu, nanti2 ketika kita ketemu orang yang pernah mengalami hal yang sama dengan orang itu, kita pasti akan bercerita sambil tertawa lepas. Ketika melewati bagian yang sangat berat, yang tidur sudah menjadi hal yang langka, dan tidak ada waktu kosong biar hanya untuk ke salon sebentar merilekskan diri, yang setiap harinya dipenuhi ketegangan karena tugas belum juga selesai2, apalagi ketika mendekati ujian, untuk makan pun tak selera. Tapi ketika semuanya sudah terlewati,,leganya luar biasa.
Dan menurut pengalaman, setiap masuk bagian dan bertemu orang baru, seiring berjalannya waktu (apalagi di bagian yang lamanya 3 bulan), kita akan menjadi akrab dengan sendirinya dengan orang2 baru itu. Dan hasilnya, kita memiliki banyak teman. Yang paling seru, adalah kalau teman2 kita di bagian itu, semuanya asik2 dan sepaham dengan kita. Jadi nyambung skali, pasti dengan cepat akan akrab. Kadang, kalau teman2 kita itu sudah nyambung skali dan akrab, biasa mereka akan membantu menutupi bila kita punya kesalahan atau kelalaian di rumah sakit. Walau tak jarang pula ada orang yang sangat menyebalkan dan malas sekali, sehingga yang seharusnya menjadi tugasnya terpaksa kita yang lakukan karena takut ketahuan oleh residen dan dimarahi.
Anyway,,, pasti masih akan ada banyak cerita seru lagi nanti, seiring bertambah bagian2 yang sudah aku lewati. Intinya menjadi dokter tidak gampang. Kalau tidak didasari dengan keinginan tulus yang kuat, akan sangat mudah bagi kita untuk stress dan menyerah. Tetap saja pada intinya, kita menjadi dokter untuk apa. Apakah semata2 untuk mencari rejeki, atau niat kemanusiaan yang kita utamakan. Semuanya kembali ke tanggung jawab, dan kesadaran kita akan tanggung jawab itu sndiri. Terkadang, karena saking capeknya, rasanya malas banget untuk memeriksa pasien, entah memeriksa obatnya, atau ada pasien yang punya keluhan, atau ada yang ingin mereka dijelaskan oleh kami, jujur, terkadang aku lebih memilih menghindar. Tapi kadang, terbersit pula rasa tanggung jawabku. Mungkin karena pekerjaan seorang dokter sudah sangat terbiasa skali melihat orang sakit, bahkan yang gawat, sampai meninggal. Jadi semuanya terkesan “biasa”. Tapi tetap saja, kita harus kembalikan bahwa mereka adalah manusia, sama seperti kita. Karena memang begitulah gambaran kita pula nanti kalau kita sakit. Aku, walau sudah sering sekali melihat pasien meninggal, bahkan meninggal di depan mataku, tetap saja aku tidak terbisa dengan itu, dan bawaanya aku pasti terngiang2 terus sepanjang hari itu. Apalagi kalau itu adalah pasien yang sehai2 aku follow up. Tapi ada pula koas atau residen, saking seringnya mungkin melihat pasien gawat atau meninggal, masih bisa bercanda atau tertawa. Mungkin ada bagusnya juga, karena mau gak mau ita memang harus membiasakan diri dengan hal itu. Aku biasa juga gak terlalu mikirin kalo misalnya denger berita pasien itu meninggal. Tapi akan terngiang2 kalo misalnya aku tak sengaja melewati kamarnya, dan melihat keluarga pasien menangis menjerit2, langsung berdiri bulu kudukku. Apalagi kalau ada keluarga pasien yang ketika melihat kita, langsung menjabat tangan kita dan mengucapkan “terima kasih” dengan berlinang air mata. Hahhh..rasanya nyesek.
Huh, rasanya suah terlalu panjang. Sekian dulu lah. Kesimpulannya, walaupun ada banyak sisi gak enaknya dari koas, tapi ada banyak juga sisi enaknya, tergantung kita melihat dari sisi mana aja sih..
Pediatric. i’m comiiinggg!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar